Kenapa Orang Jepang Jarang Bilang "I Love You"


shell_ghostcage@pixabay
“Bukan karena mereka tidak cinta tapi karena kata itu memiliki makna yang terlalu dalam untuk diucapkan sembarangan”. Minna san, sebagian dari anda sering menonton anime atau drama Jepang tentunya sudah akrab dengan momen romantis: saat tokoh utama akhirnya bilang "Aishiteru" sambil menangis di bawah hujan.
Adegan lainnya saat pohon Sakura berguguran, dan masih banyak contoh lainnya. Tapi di kehidupan nyata orang Jepang, kalimat itu sangat jarang sekali diucapkan, meski oleh pasangan yang sudah menikah puluhan tahun sekalipun. Aneh? Justru tidak, kalau kita tahu alasannya. Untuk mengetahui lebih lanjut Minna san bisa lihat artikel ini.
"Aishiteru" Bukan Sekadar Kata
Di bahasa Inggris, "I love you" terdengar familiar: bisa ditujukan kepada pasangan, hewan peliharaan, bahkan sepotong pizza. Artinya sangat luas dan penggunaannya fleksibel. Berbanding terbalik dengan di Jepang. Aishiteru (愛してる) adalah ungkapan cinta yang begitu dalam dan bermakna sehingga jika diucapkan sembarangan terasa palsu. Tidak heran kata ini disimpan untuk momen yang benar-benar penting: hari pernikahan, atau perpisahan terakhir saat seseorang berada di ambang kematian.
Survei yang Mengejutkan
Sugoren, situs kencan di Jepang, melakukan survei daring terhadap 165 laki-laki lajang mengenai alasan mereka saat remaja atau di usia 20-an jarang mengucapkan aishiteru. Hasilnya, mereka justru lebih suka mendengar kata suki (yang secara harfiah berarti "suka"), bukan aishiteru. Bukan karena mereka tidak mau dicintai, tetapi karena dalam konteks budaya mereka, kata yang lebih ringan itu justru terasa lebih tulus dan tepat (Rogers, 2014). Sungguh menarik bukan? Selain itu mereka juga merasakan kalau kata aishiteru itu sangat sakral. Seperti berjanji sehidup semati atau membuat kontrak seumur hidup.
Lalu Bagaimana Mereka Mengungkapkan Cinta?
Di sinilah hal paling menariknya: orang Jepang memilih cara yang berbeda untuk mengatakannya. Mereka lebih suka tindakan daripada ucapan. Dalam budaya Jepang, tindakan kasih sayang lebih sering ditunjukkan melalui konsep omoiyari (思いやり) yaitu kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan memenuhinya tanpa diminta.
Hara (2006) menjelaskan bahwa konsep omoiyari merupakan inti dari komunikasi relasional Jepang: seseorang harus menempatkan diri di posisi orang lain dan bertindak atas dasar kepekaan itu, bukan atas dasar instruksi atau permintaan. Ini bukan kebaikan yang besar tapi kebaikan kecil yang konsisten dalam keseharian.
Wujudnya bisa sangat sederhana (Geeraert, 2023; Tanaka, 2025): Seperti menyiapkan makanan dan minuman hangat sebelum pasangan pulang kerja, mengingat pesanan kopi favorit tanpa pernah ditanya, memperbaiki barang yang rusak tanpa diminta dan hadir diam-diam di saat-saat sulit tanpa perlu berkata apa-apa.
Dalam budaya Jepang, tindakan kecil yang konsisten, jauh bermakna daripada sesuatu yang besar, hanya sekali diucapkan. Ada konsep ishin-denshin (以心伝心) suatu idiom yang menggambarkan komunikasi tanpa kata, memahami dari hati ke hati. Kata-kata dari mulut dianggap rentan kepalsuan, sementara tindakan tulus dianggap lebih jujur (Maynard, 1993).
Kisah Anime Itu Hanya Suatu Keinginan dan Harapan
Persis seperti film Korea atau Hollywood dengan adegan pemeran utama berlarian di tengah rintik hujan mengejar pasangan yang hendak pergi jauh, lalu mengucapkan aishiteru atau I love you. Membuat kita percaya bahwa kata itu selalu begitu romantis. Di dunia nyata, percakapan romantis orang Jepang jauh lebih sunyi dan lebih halus.
Oleh sebab itu, maknanya justru lebih dalam, Mungkin kisah anime itu hanya harapan yang ingin jadi kenyataan atau harapan pada kehidupan nyata. Pada akhirnya mereka jarang mengucapkan hal itu pada pasangan. Bagaimana Minna san, semakin penasaran bukan?
Jadi, Apakah Orang Jepang Kurang Romantis?
Justru sebaliknya. Dalam kajian estetika Jepang, dikenal sebuah filosofi bernama Mono no Aware (物の哀れ). Frasa ini berasal dari kata mono (物) yang berarti "benda" atau "hal", dan aware (哀れ) yang mengandung makna kepedihan atau kesedihan yang lembut.
Secara keseluruhan, mono no aware merujuk pada kesadaran mendalam akan keindahan yang bersifat fana bahwa sesuatu terasa begitu indah karena tidak berlangsung lama. Armansyah & Astuti, 2023). Ini punya nuansa serupa dengan cara orang Jepang memandang cinta.
Justru karena aishiteru begitu jarang diucapkan, saat kata itu akhirnya keluar, momen itu menjadi sesuatu yang tidak terlupakan seumur hidup. Setiap orang memiliki bahasa cinta masing-masing. Ada yang memberikan mawar setiap hari. Ada yang mengucapkan I love you setiap pagi.
Kalau orang Jepang? mereka hanya menuang teh hangat untuk pasangannya. Diam-diam. Tanpa kata. Mungkin itulah yang justru membekas di hati. Masih banyak lagi fakta uniknya tentang orang-orang jepang, Minna san bisa terus stay tuned di website Nande Nihon ya.
Referensi
Armansyah, B. S., & Astuti, M. S. P. (2023). Estetika Jepang Wabi-Sabi dan Mono no Aware dalam Film Memories of Matsuko 2006. Japanology, 10(2), 163–179. https://doi.org/10.20473/jjs.v10i2.55502
Geeraert, A. (2023, 18 Mei). How do Japanese people express love? Kokoro Media / LinkedIn. https://www.linkedin.com/pulse/how-do-japanese-people-express-love-kokoromedia
Hara, K. (2006). The concept of omoiyari (altruistic sensitivity) in Japanese relational communication. Kent State University. https://www-s3-live.kent.edu/s3fs-root/s3fs-public/file/03-Kazuya-Hara.pdf
Maynard, M. L., & Maynard, S. K. (1993). 101 Japanese idioms: Understanding Japanese language and culture through popular phrases. McGraw-Hill Professional.
Rogers, K. (2014, 15 Mei). 9 reasons why Japanese men hesitate to say 'I love you'. Japan Today. https://japantoday.com/category/features/lifestyle/9-reasons-why-japanese-men-hesitate-to-say-i-love-youTanaka, R. (2025, 29 Agustus). How to express love in Japanese: Words, actions, and nuance. Bunpo. https://bunpo.app/blog/?p=981