Filosofi Shikata Ga Nai, Seni Terbaik Mengurangi Stress dari Jepang

Jika Minna san pernah menonton anime, dorama, film Jepang, atau bahkan pernah mengunjungi Jepang, pasti tidak asing dengan kalimat “shou ga nai” atau “shikata ga nai”. Ungkapan ini sangat terkenal dan patut untuk ditelusuri supaya mempunyai pemahaman bahasa Jepang yang mendalam.
Ungkapan tersebut mengajak kita untuk menerima kenyataan tanpa melakukan perlawanan yang berlebihan. Cara ini dapat membantu menjaga ketenangan, bahkan saat keadaan tidak berpihak.
Makna Shikata Ga Nai
Dalam keseharian masyarakat Jepang, konsep ini menjadi pegangan untuk menghadapi tekanan, kejadian tidak terduga, atau bahkan kegagalan. Masyarakat Jepang percaya bahwa dengan menerima kenyataan, seseorang bisa berpikir lebih jernih dan menentukan langkahnya dengan lebih bijak.
Filosofi ini juga berfungsi supaya kita tidak buang-buang energi dan terus fokus mencari cara yang lain. Bukan hanya meratapi kesalahan atau kegagalan saja. Sikap ini membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat dan tidak fokus pada kesalahan.
Tujuan Shikata Ga Nai
Ungkapan ini bisa disebut dengan pasrah, namun lebih menerima apa yang sudah terjadi. Contohnya cuaca buruk, kemacetan yang membuat kegiatan menjadi terhambat. Tujuan dari filosofi ini adalah mengajak manusia untuk :
1. Segala sesuatu tidak bisa kita kendalikan
Alih-alih menghabiskan energi untuk mengatur yang tidak bisa diatur, lebih baik atur pola pikir, sikap, dan langkah yang sebaiknya diambil. Dengan begitu, hati menjadi lebih ringan untuk menjalani kehidupan.
2. Lebih fokus pada aspek yang masih bisa diperbaiki
Daripada terjebak memikirkan hal-hal yang sudah terjadi atau situasi yang berada di luar kendali, lebih baik memikirkan peluan kecil yang sekiranya bisa ditata ulang. Tidak harus sempurna, yang penting ada pergerakan menuju arah yang lebih baik.
3. Membuat hal-hal yang menyakitkan itu menjadi pelajaran hidup
Rasa sakit, kekecewaan, atau kegagalan yang pernah dilewati bukan lagi menjadi penahan langkah, melainkan menjadi pengingat yang berharga yang dapat digunakan supaya menjadi lebih kuat dan lebih bijak.
4. Memikirkan hal-hal yang baik
Bukan berarti mengabaikan masalah, tapi memberi kesempatan kepada pikiran bahwa selalu ada yang layak untuk disyukuri. Dengan memikirkan hal-hal yang baik, hati jauh menjadi lebih tenang, dan lebih mudah melangkah ke arah yang lebih mantap, dan hidup menjadi lebih seimbang.
5. Percaya pada proses
Tidak semua langsung terlihat hasilnya, bahkan perjalanan terasa sangat lambat atau membingungkan. Namun, hal itu lah yang membuat bertahan dan berkembang. Karena pada akhirnya, setiap pengalaman baik maupun buruk merupakan sebuah perjalanan penting yang menjadi pembelajaran kedepannya.
Baca Juga : Memahami Filosofi Kaizen: Tumbuh Perlahan Ala Jepang
Apakah Shikata Ga Nai Relevan di Kehidupan Masa Kini?
Di dunia yang semuanya berjalan lebih cepat, tekanan sosial, hingga ketidakpastian ini tentu saja filosofi ini sangat relevan karena manusia mudah merasa cemas, stress, dan merasa kewalahan menghadapi perubahan. Sikap ini membantu untuk berhenti sejenak, tidak larut dalam rasa frustasi ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Dengan menerima hal-hal yang tidak bisa diatur, filosofi ini membantu kita untuk mencari solusi praktis dan melangkah maju tanpa terbebani dengan overthinking. Shikata ga nai bisa menjadi acuan agar manusia bisa tetap waras, menerima apa yang sudah terjadi, dan melanjutkan hidup tanpa beban.
Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari
Saat ingin liburan ke pantai untuk lihat sunset, tapi cuacanya tidak mendukung sehingga sunsetnya tidak bisa terlihat. Daripada marah atau murung, lebih baik mengucapkan “ya..mau bagaimana lagi”. Cuacanya tidak bisa kita kendalikan begitu saja tetapi kita bisa mengatur suasana hati agar lebih tenang.
Contoh lainnya adalah saat dalam perjalanan. Meskipun sudah berangkat lebih awal, tetapi jalanan tetap padat dan tidak bergerak. Menyalahkan keadaan tidak akan membuat jalan menjadi lancar. Pilihan lainnya adalah mendengarkan podcast atau melakukan aktivitas lain. Penerimaan situasi seperti ini membuat perjalanan lebih ringan.
Shikata ga nai hadir sebagai pengingat bahwa hidup tidak bisa selamanya mengikuti kemauan sendiri. Sekeras apapun kita menolak, tetap harus diterima. Namun, menerima bukan berarti menyerah, tetapi memberikan ruang untuk tumbuh. Di dalam ketidakberdayaan itu, pasti bisa belajar menemukan kekuatan baru.
Shikata ga nai memerlukan proses yang berkelanjutan dan perlu dilatih terus menerus. Masalah akan terus berdatangan, tetapi jika menerapkan filosofi ini, masalah tersebut akan terasa lebih ringan dan setiap proses itu akan menjadi bagian dalam perjalan hidup.
Penutup
Selain shikata ga nai, untuk Minna san yang ingin mengetahui lebih banyak tentang filosofi dari Jepang atau bahkan belajar bahasa Jepang dengan seru dan menarik, bisa langsung daftar di kelas Nande Nihon ya.. Mata ne.
Baca Juga : Tradisi Gagaku : Simfoni alunan musik klasik Jepang yang berusia lebih dari 1000 tahun
Referensi:
Shikata Ga Nai, Frasa Jepang yang Punya Kekuatan Stoicsm - Jurnaba.co
‘Shikata ga nai’ Sebuah Konsep Jepang Dalam Mengatasi Situasi yang Dapat Diubah - matabandung
Shikata Ga Nai: The Japanese Art Of Letting Go - Medium
The Japanese Art of Acceptance: Shikata ga nai - Psychology Today