Sisi Psikologis di Balik Fenomena Futōkō di Jepang

Hai Minna-san, Jepang yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang terbaik sedang mengalami tingginya angka ketidakhadiran siswa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Jepang pada siswa SD dan SMP menunjukkan sebanyak 350.000 lebih siswa tidak masuk sekolah di tahun ajaran 2024.
Fenomena ini sendiri di Jepang sering disebut dengan Futōkō, yaitu situasi dimana anak-anak dan remaja tidak masuk sekolah selama lebih dari 30 hari karena alasan tertentu. Futōkō bukanlah fenomena biasa tanpa sebab yang berarti melainkan fenomena yang berkaitan erat dengan kesehatan mental anak-anak dan remaja.
Tekanan Psikologis di Balik Futōkō di Jepang
Futōkō dapat dipahami dari perspektif psikologi sebagai hasil interaksi antara faktor individu, keluarga, dan budaya. Secara individu anak-anak sering mengalami fobia sosial yang memanifestasikan diri ke dalam gejala somatis (sakit kepala, sakit perut, masalah pencernaan) ketika dihadapkan pada situasi di sekolah yang dianggap mengancam.
Budaya Jepang juga menjunjung tinggi nilai Ganbaru, yaitu “bekerja keras tanpa bantuan” yang mengharapkan akan kepatuhan penuh pada standar akademik. Kegagalan atau ketidaksesuaian pada nilai ini dianggap sebagai sesuatu kekurangan, sehingga rasa malu, rasa bersalah, dan rasa tertekan memperparah kecemasan.
Dalam keluarga yang khususnya memiliki pola asuh overprotective, cenderung melindungi anak dari stres akademik dengan cara menghindarkan mereka dari lingkungan sekolah, yang pada akhirnya menguatkan persepsi anak bahwa dunia sekolah adalah tempat yang berbahaya.
Stigma sosiokultural masyarakat Jepang memandang kecemasan anak sebagai kurangnya kedisiplinan atau kelemahan keluarga. Seharusnya hal ini dipandang sebagai gejala psikologis anak yang harus diperhatikan, sehingga tidak mengakibatkan gejala kesehatan mental yang disalahartikan ke gejala somatis dan mendapatkan diagnosis yang tepat.
Anti-Psikiatri yang berkembang dalam kebijakan pendidikan Jepang mengkategorikan anak-anak ini sebagai “anak yang malas” alih-alih mengidentifikasi mereka sebagai anak yang membutuhkan bantuan secara psikologis, stigma ini yang menjadikan hambatan ke layanan konseling.
Kombinasi kecemasan internal, tekanan budaya untuk tidak menunjukkan kelemahan, pola asuh yang overprotective, serta penolakan sosial kultural terhadap label psikologis bersama-sama mempertahankan lingkaran yang menjerumuskan anak-anak pada fenomena Futōkō.
Futōkō, Bentuk Coping Mechanism Anak di Jepang
Futōkō juga diartikan sebagai bentuk pertahanan diri atau Coping Mechanism yang muncul ketika anak mengalami tekanan emosional yang tinggi. Misalnya anak yang berkonflik dengan guru, korban perundungan atau beban ekspektasi akademik akan mengalami stres dan menilai sumber stres tersebut sebagai penilaian negatif.
Penilaian negatif ini memicu emosi negatif seperti cemas, takut, dan depresi sehingga menghasilkan strategi menghindar sebagai upaya melindungi diri dari sakit emosional.Dalam hal ini Futōkō bukan hanya perilaku menentang tapi juga upaya adaptif yang berfungsi untuk mengurangi dampak dari situasi yang dianggap mengancam kesejahteraan psikologis.
Strategi ini berhasil dalam jangka pendek untuk mengurangi kecemasan, namun untuk jangka panjang akan berdampak ke penurunan prestasi, memperparah isolasi diri, gangguan psikologis seperti depresi dan penggunaan obat-obatan terlarang karena stres tidak pernah diolah secara benar.
Hubungan Futōkō dengan Hikikomori di Jepang

Perilaku Futōkō dan Hikikomori saling terkait melalui mekanisme psikologis yang mirip, yaitu keduanya melibatkan perilaku menghindari lingkungan sosial karena rasa cemas, rasa tidak berdaya atau pengalaman traumatis.
Faktor-faktor risiko yang memperkuat kedua kondisi meliputi maltreatment masa kecil, perfeksionisme dan kecemasan atau depresi yang meningkat ketika anak dihadapkan pada transisi sekolah, misalnya masuk ke sekolah menengah.
Penelitian menunjukkan pada anak Hikikomori, faktor-faktor tersebut dapat memperparah rasa takut terhadap situasi akademik sehingga memperparah anak mengalami penolakan sekolah. Sebaliknya anak yang menunjukkan perilaku Futōkō berisiko mengembangkan pola isolasi yang ekstrem, yang pada akhirnya dapat bertransformasi menjadi Hikikomori jika tidak ditangani secara tepat.
Dengan kata lain Futōkō dapat berfungsi sebagai gerbang awal menuju pola perilaku penarikan sosial yang lebih ekstrem sementara faktor-faktor psikososial yang memicu Hikikomori juga memperkuat kecenderungan perilaku Futōkō.
Pencegahan Futōkō di Jepang
Futōkō dapat diatasi dengan pendekatan antara anak, keluarga, dan lingkungan sekolah. Pertama, perlu dibangun jaringan konseling psikologis di setiap sekolah dengan program terapi perilaku kognitif yang khusus menargetkan kecemasan sosial dan gejala somatis, serta pelatihan untuk para guru sehingga dapat mengenali gejala awal Futōkō.
Kedua, perlunya edukasi tambahan kepada orang tua dan masyarakat yang menekankan pentingnya mengakui dan mengelola kecemasan anak, dan juga informasi yang menyoroti Futōkō bukanlah suatu bentuk kegagalan diri, melainkan suatu masalah sosial yang sangat perlu diperhatikan sehingga stigma sebelumnya dapat berkurang.
Jadi Minna-san, fenomena Futōkō bukanlah fenomena yang dapat dipandang sebelah mata karena dampaknya bisa menyebabkan perilaku Hikikomori, kehadiran peran orang tua dan guru di sekolah yang memperhatikan kesehatan mental anak dapat membuat anak belajar bahwa stres dapat dikelola secara lebih baik.Kesadaran masyarakat juga tidak kalah penting untuk mengurangi stigma sosiokultural sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pada anak. Yuk, kepoin Nande Nihon buat lihat artikel tentang kesehatan mental yang lagitrend di Jepang dan ada kelas bahasa Jepang juga di Nande Nihon.
References
Lozano, B. N. (2013). Understanding Futōkō as a Social Problem in Japan : The Social Context and Motivation for Change. Baylor University. https://baylor-ir.tdl.org/items/5071bb3f-c81a-4485-9654-f22520f44cce
NHK World Japan. (2025, Oktober Jumat). Tingkat Ketidakhadiran Siswa di Jepang Mencapai Rekor Tertinggi. NHK World Japan. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/id/news/backstories/4352/
Vicenzo, C. D., & Pontillo, M. (2024). School refusal behavior in children and adolescents: a five-year narrative review of clinical significance and psychopathological profiles. Italian Journal of Pediatrics, 50, 107. https://doi.org/10.1186/s13052-024-01667-0