Konsep "Less is More" dalam Gaya Hidup Minimalis di Jepang


Colin Fearing@pexels
Minna-san, pernahkah mendengar konsep "Less is More" yang artinya kesederhanaan atau meminimalisir segala penggunaan?. Akhir-akhir ini konsep tersebut kembali ramai diperbincangkan dan menjadi tren dalam gaya hidup di kota-kota besar.
Di Jepang sendiri, konsep less is more sudah sangat terkenal sejak lama, bersamaan dengan meluasnya ajaran Zen Buddhisme. Tren minimalisme ini menjadi tren besar dikarenakan punya fungsi estetika dan pragmatis (Hikmah, 2020).
Mereka berpikir bahwa sedikitnya barang, hidup juga akan terasa lebih hemat dan tentunya rumah yang ditinggali tidak merepotkan untuk dihias. Hal ini terlihat jelas dari desain interior rumah di Jepang yang minim furniture.
Gaya hidup minimalis juga merupakan ajaran Zen Buddhisme yang melarang materialisme dengan mengurangi atau membatasi harta benda yang dimiliki. Ideologi, aktivitas, dan artefak Jepang dipengaruhi oleh ajaran Zen, sehingga kesederhanaan menjadi nilai yang mengakar dalam keseharian masyarakat Jepang.
Selain karena fungsi dan estetika, keamanan juga menjadi salah satu faktor. Masyarakat yang memiliki sedikit barang akan lebih mudah menyelamatkan diri, dikarenakan Jepang adalah negara dengan frekuensi gempa yang tinggi. 50 persen kecelakaan dan kematian saat bencana terjadi disebabkan oleh jatuhnya benda-benda yang ada di rumah.
Fumio Sasaki merupakan penulis buku Goodbye, Things yang menekankan gaya hidup minimalis, yang berfokus pada seseorang yang merasa cukup dengan yang ada dan fokus pada hal yang penting. Sederhana di sini bukan berarti kekurangan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan mengurangi hal yang tidak perlu, jadi yang tersisa hanya yang benar-benar penting.
Pentingkah tren ini kita ikuti?
Ternyata gaya hidup minimalis lebih membuat kita tenang dan rileks tanpa takut kehilangan esensi barang tersebut. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan bahwa tren gaya hidup minimalis ini memiliki dampak positif.
Gaya hidup ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan mengubah perilaku konsumtif serta pengambilan keputusan individu, Tren ini bisa kita ikuti bagi minna san yang sudah siap untuk meninggalkan barang-barang yang memang sudah tidak terpakai..
Apa Saja yang Berubah jika Hidup Minimalis?
Perubahan yang paling sering terjadi adalah kamar tidur akan menggunakan tatami dan futon daripada kasur modern. Tatami sendiri adalah matras khusus yang terbuat dari jerami potong berwarna kuning yang digunakan di rumah orang Jepang.
Meski bukan kasur modern, tatami memiliki tekstur yang empuk dan memiliki kemampuan untuk meredam suara. Justru inilah yang dianggap orang Jepang sebagai tempat yang memberikan ketenangan pikiran.
Hal kedua yang sering berubah yaitu pakaian dan perabotan; mereka akan membeli dan menyimpan yang secukupnya. Selain itu, pola pikir juga akan berubah seiring menerapkan konsep less is more.
Pola pikir yang tidak menimbun barang dan juga memprioritaskan kebutuhan dengan tidak membeli barang secara impulsif. Jadi, apakah Minna-san tertarik menerapkan konsep ini pada kehidupan sehari-hari? Selain irit, juga menghilangkan kebiasaan menimbun banyak barang yang tidak terpakai di rumah. Barang apa yang akan mulai Minna-san lepaskan? Pantau terus website Nande Nihon ya, Minna-san. Minggu depan akan ada bahasan menarik lainnya.
Referensi
Hasibuan, S. F., Sophiarenee, F. A., Alfarisy, F., & Purwantoro, K. (2024). Analisis budaya Jepang dalam buku Goodbye, Things: Hidup minimalis ala orang Jepang oleh Fumio Sasaki. Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, 8(1). https://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku/article/view/60913
Sasaki, Fumio. (2015). Goodbye, things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang (-). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Wanova, D. T. (2024). Konsep gaya hidup minimalis Fumio Sasaki dalam perspektif Islam. UIN Sultan Syarif Kasim Riau. https://repository.uin-suska.ac.id/78194/2/SKRIPSI%20FULL.pdf
Hikmah, S. N. (2020). Minimalisme: Studi kasus 3 perempuan karier bergaya hidup minimalis di Kota Makassar. Universitas Hasanuddin. https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/2041/2/E51116306_skripsi_28-08-2020%201-3.pdf