Tradisi Gagaku : Simfoni Alunan Musik Klasik Jepang yang Berusia Lebih dari 1000 tahun

Setiap negara pada dasarnya memiliki musik tradisional yang masih bertahan, salah satunya adalah Jepang dengan tradisi Gagaku (雅楽). Budaya ini tidak hanya bertahan, namun juga terus dilestarikan hingga saat ini.
Apa Itu Budaya Gagaku?
Minna san tradisi Gagaku itu sudah berlangsung cukup lama, Gagaku memiliki makna musik anggun, tradisi ini merupakan sebuah seni musik tertua di Jepang yang sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu. Tradisi ini dibawa dari negara Cina pada masa Dinasti Tang, sekitar abad 7-9.
Pada awalnya tradisi musik ini hanya dilakukan di kediaman kekaisaran, kemudian seiring dengan perkembangan zaman, seni ini menjadi sebuah hiburan masyarakat. Berdasarkan penjelasan buku dari Sunaga yang diterbitkan tahun 1936, budaya musik ini memiliki dua jenis tujuan dalam penyelenggaraannya.
Pertama untuk upacara Kekaisaran, dan kedua untuk mengiringi tarian dalam hiburan Kekaisaran. Tradisi Gagaku memiliki berbagai macam pengaruh terhadap kemunculan tradisi seni lainnya di Jepang, seperti seni teater Noh atau Yokyoku (謡曲) & utai (謡)yang muncul pada abad 14.
Tradisi Gagaku terus diwariskan kepada para murid magang oleh para ahli di Departemen Musik Kekaisaran, para murid tersebut banyak di antaranya merupakan keturunan keluarga yang berakar kuat dalam seni ini.
Gagaku bukan hanya sebuah alat budaya penting dalam menegaskan identitas Jepang dan kristalisasi sejarah masyarakat Jepang, tetapi juga sebuah demonstrasi bagaimana berbagai tradisi budaya dapat menyatu menjadi warisan yang unik
Baca Juga : Pendidikan Gratis di Jepang : Disiplin dan Bermoral
Pertunjukan Gagaku
Minna san terdapat tiga tahapan seni pertunjukan Gagaku, pertama pertunjukan diawali dengan musik Kangen (instrumental), selanjutnya terdapat Bugaku (tari dan musik), serta Kayō (lagu dan puisi yang dilantunkan).
Instrumen yang digunakan meliputi instrumen Jepang, seperti Wagon, Kagura-bue dan Sō (harpa Jepang), sedangkan instrumen asing yang digunakan adalah Shō, Hichiriki dan, Fue sebagai instrumen tiup.
Selanjutnya, terdapat alat Biwa (kecapi) sebagai instrumen senar, Kakko dan Taiko (gendang), Shōko (gong perunggu), serta San-no-Tsuzumi (gendang jam pasir) sebagai perkusi
Pertunjukan seni musik Gagaku merupakan kombinasi dari berbagai macam instrumen-instrumen tersebut. Bahkan, ketika jumlah musisi bertambah, hanya ada satu set instrumen perkusi ini yang digunakan.Ketika pertunjukan Kangen selesai, kemudian dilanjutkan dengan Bugaku pada awalnya tidak dibersamai dengan instrumen musik, namun seiring dengan perkembangan zaman, iringan musik mulai menjadi bagian dari Bugaku.
Tangga nada yang digunakan dalam Gagaku terdiri dari dua jenis. Pertama Ryo-mode, kedua adalah Ritsu-mode. Keduanya merupakan septakord, yang dikembangkan dari pentakord asli. Tangga nada tersebut dibedakan berdasarkan posisi toniknya yang menjadi enam tangga nada.

Ritsu-mode, yang selaras dengan skala Jepang kuno, telah menjadi dasar nada musik Jepang sejak Abad Pertengahan. Ini telah menjadi dasar tangga nada musik Jepang sejak Abad Pertengahan. Lagu kebangsaan Jepang saat ini ditulis menggunakan tangga nada tersebut.
Pada tahun 1956, dalam rangka untuk memperkenalkan Gagaku kepada lapisan masyarakat yang lebih luas, Departemen Musik Kekaisaran menyelenggarakan resital Gagaku dua kali dalam waktu setahun pada musim semi dan musim gugur.
Selama musim semi, terdapat kelompok budaya dan korps diplomatik residen yang mengikuti acara ini, sementara pada musim gugur, terdapat masyarakat umum yang mendaftar melalui surat kabar, radio, dan media lainnya, menghadiri pertunjukan selama tiga hari di Istana Kekaisaran.
Minna san yang tertarik dengan budaya ini bisa juga ikutan belajar, karena Badan Urusan Kebudayaan dan pemerintah daerah meminta diadakan pertunjukan dua kali setahun di berbagai wilayah Jepang, kemudian pertunjukan Gagaku juga diadakan setahun sekali di Teater Nasional Jepang.
Minna San, itu pengenalan budaya Gagaku di Jepang. Minna san ingin lebih mengenal budaya dan segala tentang Jepang? Ayo ikuti artikel menarik lainnya seputar budaya Jepang dan kelas bahasa Jepang di Nande Nihon!
Baca Juga : 5 Universitas Terbaik di Jepang yang Paling direkomendasi
Referensi:
Sunaga, Katsumi. (1936). Japanese Music. Board Of Tourist Industry Japanese Goverment Railways.