Seni Penerimaan Diri ala Wabi-Sabi dalam Film Studio Ghibli “Howl’s Moving Castle”

Minna-San! Pernah dengar istilah Wabi-Sabi? Sō! Belakangan istilah ini makin populer untuk menggambarkan keindahan dalam ketidaksempurnaan dan kesederhanaan. Ternyata Wabi-Sabi sering muncul dalam berbagai Studio Ghibli, termasuk “Howl’s Moving Castle”.
Melalui film tersebut, Minna-San bisa belajar bagaimana Wabi-Sabi menjadi pendekatan lembut untuk memahami dan menerima diri apa adanya. Yuk, simak penjelasan lebih lengkapnya!!
Apa Itu Wabi-Sabi?
Wabi-Sabi (dalam Kanji ditulis 侘寂 atau 侘び寂び) adalah salah satu filosofi Jepang yang mengajarkan manusia untuk melihat keindahan dalam hal yang tidak sempurna. Masing-masing katanya memiliki makna yang berbeda:
- Wabi: Awalnya pemaknaan kata wabi berasal dari kata wabiru (侘びる yang berarti “merana”) dan wabishii (侘びしい yang berarti “terpuruk”). Namun, kemudian berkembang menjadi cara pandang untuk menemukan keindahan dalam kesederhanaan dan keadaan yang tidak ideal.
- Sabi: Berasal dari kata sabiru (錆びる yang berarti “berkarat” atau “menua”), lalu dimaknai sebagai keindahan yang muncul dari waktu, perubahan, dan kedalaman batin.
Secara keseluruhan, Wabi-Sabi mendorong seseorang untuk menerima diri dan dunia apa adanya dan menemukan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.
Wabi-Sabi dalam “Howl’s Moving Castle”

Minna-San pasti sudah tidak asing dengan film “Howl’s Moving Castle” nih. Film ini menceritakan tentang karakter Sophie dan Howl yang masing-masing menghadapi tantangan dalam memandang diri mereka sendiri, khususnya dalam hal penampilan. Perjalanan keduanya menunjukkan bagaimana proses menuju penerimaan diri terbentuk secara perlahan, sebuah proses yang selaras dengan esensi konsep Wabi-Sabi.
Dalam film “Howl’s Moving Castle”, Sophie dikutuk menjadi nenek tua. Ia pun merasa bingung dan kehilangan percaya diri. Namun, seiring perjalanan, ia mulai terbiasa dengan tubuh barunya dan malah menemukan ketenangan dari hal yang sebelumnya membuatnya cemas.
Masalah yang serupa juga dialami oleh Howl. Ia selalu membuat dirinya tampak sempurna, walaupun sebenarnya ia sangat takut terlihat buruk di mata orang lain. Pikiran itu kerap membuatnya panik dan menjauh dari orang-orang yang peduli padanya.
Ketika Sophie menerima dirinya dengan tulus, ia justru menjadi kekuatan bagi Howl untuk menghadapi ketakutannya sendiri. Momen ini menunjukkan bahwa keindahan yang sesungguhnya lahir ketika mereka melihat diri mereka lebih dari penampilan luarnya.
Baca Juga : Hikikomori: Fenomena Kesehatan Mental yang Mengerikan dari Jepang
Persamaan Wabi-Sabi dan Teori Psikologi Modern
Dalam psikologi modern, ada pendekatan yang sejalan dengan Wabi-Sabi, yaitu Acceptance & Commitment Therapy (ACT). ACT mengajarkan individu untuk menerima hal yang tidak bisa diubah dan diluar dari kendali pribadi, mencoba untuk menikmati momen saat ini, dan tetap hidup sesuai nilai yang dianggap penting.
Perjalanan Sophie dan Howl sebenarnya mencerminkan beberapa proses utama yang menjadi tahapan ACT, seperti:
- Acceptance: Sophie berhenti melawan perubahan fisiknya dan menerima dirinya apa adanya, sehingga ia bisa lebih tenang dan berani.
- Cognitive Defusion: Howl perlahan melepaskan pikiran bahwa dirinya harus selalu terlihat sempurna.
- Self-as-Context: Keduanya belajar bahwa jati diri tidak bergantung pada penampilan.
- Values & Committed Action: Meski awalnya sulit, akhirnya mereka memutuskan untuk mempercayai dan memberanikan diri dalam menghadapi masalah yang muncul.
Menerapkan Wabi-Sabi dalam Kehidupan Sehari-hari
Setelah melihat bagaimana Sophie dan Howl menerima ketidaksempurnaan diri mereka, Minna-San juga bisa mulai mempraktikkan Wabi-Sabi dalam kehidupan sehari-hari. Caranya sederhana kok, misalnya:
- Menikmati momen sehari-hari seperti minum teh, membaca buku, atau sekadar duduk sambil merasakan angin sore.
- Menerima bahwa diri kita tidak selalu harus sempurna dan itu tidak apa-apa.
- Melepaskan pikiran yang terlalu keras pada diri sendiri dan memberi ruang untuk bernapas.
- Fokus pada nilai yang sesuai dengan diri sendiri, bukan ekspektasi orang lain.
Dengan langkah-langkah kecil ini, Minna-San bisa menemukan kehangatan yang sama seperti suasana dalam film Ghibli yang hangat dan penuh makna.
Gimana, Minna-San? Sekarang udah kebayang kan gimana Wabi-Sabi bisa membantu kita menerima diri? Perjalanan Sophie dan Howl menunjukkan bahwa perubahan dan ketidaksempurnaan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diterima agar bisa bertumbuh ke arah yang lebih baik dan menemukan potensi diri.
Kalau Minna-San tertarik menjelajahi filosofi Jepang lainnya, coba cek artikel-artikel di Nande Nihon yuk. Siapa tahu ketemu perspektif baru yang bermanfaat!
Baca Juga : Filosofi Jepang Ini yang Bikin Kamu Gak Gampang Stress
Referensi:
Wabi-sabi, A unique aesthetic sense of the Japanese - Goodluck Trip Japan
Wabi Sabi: Japanese Wisdom for a Perfectly Imperfect Life (2018), London: Piatkus