Tren Work-Life Balance pada Pekerja Muda Jepang

Minna San, generasi muda di Jepang berbondong-bondong tertarik pada tren work-life balance. Kira-kira apa alasan dibalik munculnya tren tersebut? Bukankah Jepang terkenal dengan totalitas di tempat kerja, ya?
Hal ini terjadi karena adanya pergeseran nilai pada kehidupan pekerja muda di Jepang. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin dihargai. Mari simak penjelasan berikut untuk semakin mengenal kehidupan di Jepang!
Quiet Quitting Akibat Minimnya Work-Life Balance
Istilah quiet quitting menjadi populer di Amerika Serikat pada tahun 2022 sejak muncul di TikTok. Konsep ini memiliki arti bekerja sesuai job desk yang diberikan. Tidak adanya inisiatif untuk melakukan lebih demi mendapat kenaikan pangkat, promosi, atau gaji.
Terdapat laporan yang dilakukan oleh perusahaan riset asal Amerika Serikat bernama Gallup di tahun 2023. Diketahui bahwa 59% pegawai di seluruh dunia mulai mengamalkan quiet quitting dalam pekerjaan. Hal ini juga kemudian merambah pada generasi muda di Jepang.
Penyedia jasa informasi tentang pegawai di Jepang bernama Mynavi melakukan riset pada November 2024 lalu. Survei ini dilakukan pada 3000 pegawai penuh waktu berusia 20 hingga 59 tahun. Total sebanyak 44,5% pegawai di Jepang menerapkan quiet quitting. Hal ini terjadi khususnya pada rentang 20-29 tahun menempati posisi tertinggi dengan jumlah 46,7% quiet quitters.
Pergeseran nilai terjadi pada generasi muda yang kini lebih memprioritaskan waktu untuk diri sendiri dan orang terdekat. Berikut adalah alasan pekerja muda Jepang yang lebih memprioritaskan work-life balance dalam hidupnya.
Generasi muda merasa bahwa mereka tidak terlalu menganggap penting jenjang karir. Para pekerja ini tidak membenci pekerjaan mereka, namun tidak pula menilai pekerjaan sebagai prioritas utama dalam hidup.
Pekerja muda di Jepang acap kali tidak mengambil kesempatan untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi. Beberapa memilih untuk bertahan di posisinya saat ini. Hal ini didasari bahwa jika mengambil jabatan lebih tinggi maka tanggungjawab dan waktu untuk bergelut dengan pekerjaan menjadi lebih banyak.
Sementara para generasi muda ini juga ingin mengalokasikan waktu untuk bersosialisasi dengan teman dan keluarga. Selain itu, waktu personal juga sering kali dimanfaatkan untuk bepergian, mendengarkan musik, atau memulai hobi baru yang belum pernah digeluti karena sibuk bekerja.
Baca Juga : Mengenal Gaya Hidup Kebersihan di Jepang yang Sudah Mengakar Sejak Dini
Perusahaan Pendamping Work-Life Balance
Sebagai komitmen keseriusan dalam penerapan work-life balance bagi pekerja di Jepang, terdapat dua perusahaan yang siap memfasilitasi baik dari sisi pekerja maupun dari sisi perusahaan.
Quitting agencies merupakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan yang mengatur keseluruhan proses resign karyawan. Hal ini meliputi rancangan pembuatan surat resign pemberitahuan kepada perusahaan tempat bekerja, hingga menyelesaikan dinamika sosial yang muncul selama proses pengunduran diri.
Walaupun belum umum digunakan, layanan pendampingan proses resign dianggap penting untuk membantu mengurangi beban emosional akan rasa bersalah yang muncul pada pekerja tersebut. Hal ini terkait dengan beberapa perusahaan menjunjung nilai yang menghargai loyalitas pegawai kepada satu perusahaan sepanjang karirnya.
Sementara untuk perusahaan, pentingnya sisi kesehatan mental pegawai juga semakin disadari sehingga beberapa perusahaan mulai berlomba untuk menerapkan konsep work-life balance dalam pengelolaan sumber daya manusia dan beban kerja.
Praktek ini dilakukan oleh perusahaan konsultan asal Tokyo bernama Work Life Balance Co Ltd. yang didirikan oleh Yoshie Komuro. Sejak didirikan pada tahun 2006, perusahaan ini telah berhasil bekerja sama dengan lebih dari 1000 organisasi di Jepang yang ingin menerapkan work-life balance dalam manajemen kegiatan kerja.
Pendampingan berupa modernisasi sistem kerja, menelusuri alasan dan masukan dari para pegawai, serta membuat forum diskusi antara pegawai dan atasan untuk mengungkap kebutuhan kedua belah pihak secara adil.
Keterbukaan ini dipercaya membawa angin segar pada penerapan kebijakan yang berorientasi work-life balance di perusahaan untuk mempertahankan kinerja pegawai dan meminimalisir terjadinya quiet qutting.

Perusahaan dan Work-Life Balance
Berdasarkan riset dari perusahaan Gallup di tahun 2024, Jepang menjadi negara dengan tingkat partisipasi pegawai yang paling rendah di dunia dengan hanya 6% pegawai yang aktif berpartisipasi.
Beberapa perusahaan mulai menyadari adanya pergeseran nilai pada pekerja muda di Jepang, sehingga mereka mulai menyesuaikan diri dengan mencoba menerapkan konsep work-life balance dalam kebijakan perusahaan. Hal ini meliputi jadwal kerja fleksibel, jenjang karir yang lebih jelas, serta pengakuan atas pencapaian kerja pegawai.
Perusahaan seperti Toyota mulai memberikan batasan terkait kuota lembur tahunan menjadi 360 jam. Selain itu, perusahaan otomotif ini juga memberlakukan pengingat bagi pegawai untuk segera meninggalkan kantor paling lambat jam 7 malam.
Manajemen sistem absensi mulai diterapkan pada perusahaan Hitachi yang bertujuan untuk menghitung jumlah jam kerja per harinya. Sistem ini juga dapat digunakan untuk mengetahui siapa pekerja yang sering melakukan lembur untuk kemudian dikurangi di kemudian hari.
Sistem empat hari kerja dan tiga hari libur dalam seminggu kian diminati di beberapa negara dan perusahaan Panasonic juga tertarik untuk menerapkannya. Perusahaan berharap dengan menerapkan sistem kerja ini dapat membantu memberikan work-life balance bagi pegawai untuk mengalokasikan waktu untuk kesehatan pribadi dan keluarga.
Perusahaan ritel pakaian Uniqlo juga mulai menerapkan opsi sistem empat hari kerja. Berbeda dari Panasonic, Uniqlo juga menawarkan sistem lima hari kerja tetapi dengan jam kerja yang tidak mengikat. Kedua pilihan ini diciptakan untuk mengurangi jumlah jam kerja per minggu dengan tetap mempertahankan hasil akhir dan kepuasan kerja pegawai.
Perusahaan Microsoft di Jepang berhasil menghemat pengeluaran listrik perusahaan dengan adanya penurunan sebesar 23%. Selain efisiensi keuangan, penerapan konsep work-life balance juga dinilai berhasil memberikan keleluasaan pada pegawai luar negeri dan pegawai perempuan yang memiliki kegiatan lain di luar kerja.
Jepang sendiri pada tahun 2015 telah menerapkan Stress Check Program pada perusahaan yang memiliki karyawan lebih dari 50 pegawai. Survei tahunan ini dilakukan untuk mengetahui kadar kesehatan mental pegawai dan perusahaan akan memberikan bantuan layanan pendamping jika dibutuhkan.
Hasil survei dapat membantu meningkatkan kesadaran kesehatan mental, baik bagi pegawai dan juga pemberi kerja. Selain itu, survei juga turut membantu perusahaan dengan menyesuaikan kondisi kerja yang lebih baik untuk mendukung pegawainya melalui pembuatan kebijakan yang tepat guna.
Penutup
Demikian penjelasan tentang work-life balance yang sedang naik daun di kalangan pekerja muda di Jepang. Semoga tulisan di atas bisa membuat Minna San lebih mengenal kehidupan di Jepang. Jangan lupa baca artikel menarik lainnya di Nande Nihon!
Referensi:
How the Japanese are putting an end to extreme work weeks - BBC
How Japan is healing from its overwork crisis through innovation - World Economic Forum
Japan Work-Life Balance: Is the Culture Finally Changing? - 4 Day a Week
Nearly half of workers in Japan engage in ‘quiet quitting’ - The Japan Times
Quiet Quitting on the Rise in Japan - Nippon.com
Tren "Quiet Quitting" di Kalangan Pekerja Jepang, Apa Itu? - Kompas.com
Why Japan's Gen Z is 'quiet quitting' work - DW
Nearly half of Japanese workforce engages in ‘quiet quitting’: survey - Next Shark
Baca Juga : Oubaitori : Cara Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain